17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2015. Selamat HUT RI Ke-70
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

Guru Mengaji

Sudah sepekan anak-anak yang mengaji di masjid Nurul Iman tidak ada yang mengurus. Anak-anak hanya berlarian ke sana ke mari. Sudah lima hari ini tidak satu pun ada guru mengaji yang mengajar di sana.

Meskipun anak-anak yang mengaji dikenai infak bulanan. Namun, hasilnya sangat tidak memadai untuk honor guru mengaji yang mengajar. Itu sebabnya setiap bulan Tarmidzi terpaksa minta subsidi dari kas masjid. Namun, yang dilakukan Tarmidzi menimbulkan masalah.

Sudah beberapa bulan ini, Neneng - istri Tarmidzi - mendengar kabar yang tidak menyenangkan tentang suaminya, bahwa Tarmidzi mau berkiprah di masjid yang belum sepenuhnya jadi karena ingin menangguk keuntungan dari sana.

Untuk mengklarifikasi masalah itu, Tarmidzi minta kepada ketua pengurus masjid untuk mengumpulkan semua pengurus, tokoh masyarakat, serta para ketua RT. Lelaki berkacamata minus itu ingin menjelaskan kenapa setiap bulan dirinya terpaksa meminta subsidi dari uang kas masjid. Kenapa pula tenaga pengajar anak-anak di masjid itu sering berganti. Tarmidzi tidak ingin apa yang dilakukannya selama ini justru menimbulkan fitnah.

Senin, 12 Desember 2011

Bangku Beton

BANGKU beton itu masih di sana, di bawah rindang batang jambu air. Kusam dan berlumut tebal. Alang-alang tumbuh lebat di sekelilingnya, tanaman pakis menjalar liar. Di atasnya, berserakan guguran daun-daun tua. Sebagian telah membusuk oleh hujan. Ia tertegak di pintu dapur, tak berkesip memandang bangku di sudut pekarangan rumah itu. Entahlah, lamat-lamat ia seolah mendengar tiupan harmonika, mendengar lagu Les Premiers Sourires de Venessa-nya Richard Clayderman. Beberapa saat lamanya ia merasa terbuai. Tapi, sesuatu seperti menyesaki dadanya. Tanpa sadar ia menggigit bibir. Pandangannya menjadi buram. Tentu ia tak pernah bisa melupakan lagu itu, juga lagu-lagu Richard Clayderman lainnya. Meskipun sudah demikian lama, bertahun-tahun, tak pernah mendengarnya lagi. Ia ingat, lelaki itu nyaris dapat memainkan semua lagu Richard Clayderman dengan segala instrumen, dengan cukup sempurna.

Bakauheni yang Merenda Rindu Penyesalan

Pelabuhan Bakauheni. Sepenggal kehidupan yang tidak pernah berhenti mendeburkan ombaknya menciptakan buih-buih bertebaran. Mungkin hingga kiamat terjadi.

Beberapa menit kapal muncul dan menghilang, kapal-kapal yang bolak-balik dari Bakauheni ke Merak atau sebaliknya. Mobil-mobil angkutan mengambil jalurnya sendiri-sendiri diatur oleh petugas, jalur sesuai dengan kuantitas dan ukuran yang telah tertulis dalam peraturan.

Jika senyap telah menyapa, ketika Tuhan telah menimbun matahari dalam dekapan-Nya di kaki langit barat seolah tenggelam dalam luasnya laut, kehidupan ini terus berjalan tak kenal henti.

Jumat, 09 Desember 2011

Badai Bunga

SUNGGUH kau harus berterima kasih pada lima perempuan Meksiko yang memaksamu membeli buket bunga mawar saat bersama Michael kau belajar mencicipi escargot di Le Claufotis Restaurant. Jika saja di keriuhan Sunset Boulevard kau tak mendesiskan kata-kata cinta di telinga malaikat tanpa sayap itu sambil memberikan bunga-bunga harum yang kaubeli dengan harga murah, bukan tidak mungkin kekasih Hollywood-mu itu memburu pria lain di The Abby Est 191. Di klub gay yang tak pernah pindah dari North Robertson 692 itu, bisa saja ia menggaet pria sembarangan dan pada puncak malam menyeret sang kuda tunggangan ke rumah mewahnya di Bell Air. Dan bukan rahasia lagi siapa pun akan menjadi rising star atau berkesempatan memainkan peran-peran penting jika satu jam saja bercinta di ranjang bersprei motif macan kesukaan Michael.

"Ya, tetapi aku benci pada perempuan-perempuan Meksiko yang selalu muncul dengan mantera dan bunga-bunga merah darah saat Michael dengan kasar dan penuh berahi meremas jari-jemari tanganku yang lentik," katamu sambil berkali-kali mereguk anggur merah di sudut teremang bar yang setiap malam tak pernah sepi itu.

Hmmm masih beruntung kau hanya merasakan harum bunga, teror mantera, doa mekanis, atau desis lagu-lagu penuh sihir dari mereka. Kalau saja pernah menjadi penduduk Macondo , setiap saat kau akan didera puting beliung berbadai daun, melihat mayat-mayat dari kota penuh lumpur bergelimpangan di depan gereja, menatap salib-salib kayu rapuh bertumbangan dari katedral, menyaksikan nisan-nisan kotor beterbangan dan menyangkut di atap rumah, dan tak bisa menghindar dari luapan sungai penuh tinja setiap Rabu.

"O, mengertilah kau, Julieta, di Sunset Boulevard saat para perempuan itu datang, mendadak seakan-akan muncul badai bunga,...segala bunga..., mendera siapa pun yang sedang menikmati makan malam di restoran," kau melenguh menirukan desis Monica Bellucci di Paris saat disodomi pria gila di subway.

Arjuna Tumaritis

Aku menulis ini karena dua saudaraku yang lain tak bisa menulis. Mereka hanya tertarik pada tanaman dan ternak. Soal pupuk, hama ini dan itu, kakakku adalah ahlinya. Memilih bibit yang baik, cara petik yang tepat, dia sangat teliti. Lain halnya dengan Si Bengal bungsu itu.

Dia memang tak kenal angka,apalagi huruf, tapi dia pintar bercakap-cakap dengan kambing- kambing kami. Kadang-kadang ia merayu agar mereka mau memakan rumput kering sisa persediaan kemarin. Jika kambing-kambing itu rewel, serapahnya segera menggema di seluruh kampung.

Setelah itu kupingnya pasti memerah karena dijewer Bapak Semar, ayah kami tercinta. Gareng kakakku, Bagong adikku dan perkenalkan aku, Si Ganteng Mas Petruk,Arjuna dari Tumaritis. Entah kenapa mendadak semua keluguan itu menghilang dari rumah kami. Beberapa hari ini Gareng dan Bagong sibuk berdebat tentang keadaan Istana Amarta.

”Puntadewa dan adikadiknya itu, dulu aku yang nyeboki pantatnya. Enak saja dia main perintah seluruh anak-anak yang sudah disunat harus menjadi prajurit,” Gareng meradang. “Lho, itu kan demi kewibawaan Amarta juga, supaya Hastina berpikir lagi untuk tidak seenaknya pamer kekuatan.”

”Tapi Gong, sebagai tanaman, mereka belum siap untuk berbuah. Pemaksaan itu hanya akan merusak. Dahan-dahannya rapuh, mutu buahnya jelek, tidak tahan penyakit dan tidak akan berumur panjang.” “Kambing-kambing itu kalau tidak dibiasakan, dilatih, hanya akan menjadi binatang-binatang manja. Mereka hanya tahu rumput gajah itu enak, rumput kering itu hambar. Bagaimana dengan aku yang tiap hari mesti memenuhi kebutuhan mereka.”

”Anak-anak kita bukan kambing, dungu!” “Apalagi tanaman, sama sekali bukan, pincang!” Gareng memang pincang dan Bagong mungkin saja dungu karena nyatanya ia tidak menampik sebutan dari mulut Gareng itu. “Lho, kok pakai bawa-bawa kakiku yang pincang?” “Aku juga bukan orang dungu. Kamu yang tolol.” Ternyata aku salah.Gareng sakit hati pada kakinya yang pincang semenjak lahir itu dan Bagong mengingkari kedunguannya.

Rabu, 07 Desember 2011

Anggang dari Laut

"Pergilah! Ikuti aliran batang Kuantan itu, kelak kau akan bertemu ujungnya, di mana air akan terasa asin di lidahmu. Muara dengan riak ombak yang mendesir, nyanyian yang mendayu-dayu, yang membuat hati pilu dan layu. Ya, di sanalah tanah Melayu. Carilah ayahmu! Ia berdiam di laut yang sedidih hingga teratak berair hitam, tempat buaya putih tengkuk. Anggang, itulah nama ayahmu, terkenal dengan julukan ‘Anggang dari Laut’!"
Mengiang, kata-kata itu mengiang. Tertanam di tubuhku yang paling dalam. Masuk ke darah, mengalir, setiap persendian, ngilu, dan pilu. Menjadi dayung setiap pelayaranku.

"Ingat, Buyuang! Kau bukan lagi anak dari seorang putri raja dengan ibu bernama Puti Jamilan. Kini, kau hanya seorang anak rantau yang mencari penghidupan baru di tanah seberang. Layarilah penghidupanmu, kini kau punya kapal sendiri yang bebas kau kayuh ke samudra manapun."

Selasa, 06 Desember 2011

Anak Semata Wayang

SELEMBAR diary tersibak, sebaris puisi tertera...
Ayah,....
Tuliskanlah darahmu, di atas kanvas putih jiwaku. Agar tak hanya kukenang selalu, tetapi mengalir juga dalam derasan darahku....

Wanadri tertegun. Jelas itu buku harian anaknya yang masih berusia delapan tahun. Apakah anak usia sewindu bisa menulis seperti itu? Jangan-jangan ia hanya menjiplak bait puisi yang ia temukan dalam koleksi buku yang ada di rak. Tetapi apa maksudnya? Mengertikah ia?
Wanadri meletakkan sapu yang sedang dipegangnya. Ia duduk, seolah bersiap memecahkan teka-teki sudoku yang gampang-gampang sulit.
"Hidup seperti mimpi," gumamnya kemudian tanpa mengerti pasti mengapa tiba-tiba kalimat padat itu terlontar demikian. Mungkin, ya, hidup memang seperti mimpi. Sudah setara umur anaknya ia menduda, semenjak Surati isterinya meninggal dalam kecelakaan gantung diri. Waktu itu Surati ketakutan tak mampu menjawab kebutuhan ekonomi, dan ketakutan akan hamil lagi. Wanadri merasa, kadang peristiwa dan persoalan hidup memang sulit untuk dipahami, kendati sesuatu sungguh-sungguh terjadi. Cerita seperti yang terjadi pada dirinya kadang-kadang lebih bisa dipercaya jika dilihat sebagai film. Ia sendiri dulu juga pernah menyangkal, kenapa kepahitan hidup bisa menimpa dirinya, tetapi selang ia merenung, ia sendiri menganggap bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sombong. Seolah menafikan dirinya sebagai manusia yang tak bakal bisa terjamah oleh peristiwa pahit sepahit-pahitnya. Ia pun menghela napas dan tafakur sejenak memohon ampunan atas kelancangan pertanyaannya itu kepada Tuhan.
Wanadri mengempaskan napasnya.

Anak Inkubator

Bayi mungil itu meringkuk di dalam inkubator. Ia bernafas cukup berat, kembang-kempisnya dadanya yang di dalam rongganya meringkuk jantung dan paru-paru. Menjadi pratanda betapa organ-organ vital bagi si anak manusia yang baru dilahirkan ibundanya itu mesti menghadapi dunia yang belum tentu ramah pada kehadirannya.

Ibunya masih tergeletak di tempat tidur rumah sakit. Wajahnya yang dalam kondisi sehat berrona hitam manis semu kemerahan bila menunjukkan suatu reaksi sikap tertentu, kini pucat. Leher yang menyangga kepalanya tak bisa menolak ketika kepalanya yang pada tempatnya ditumbuhi rambut bergelombang itu terkulai lemas.

Ayahnya-lah yang harus menunjukkan sikap kasih sayang super penuh untuk menjadi penghubung antar insan yang disayanginya itu dengan insan-insan lapis kedua dan ketiga dalam lingkaran kehidupan mereka.

Sabtu, 03 Desember 2011

Ajak Aku Melihat Kunang-Kunang

Lelaki itu membuka komputer, lalu mengaktifkan Yahoo! Messenger. Ia meneliti satu persatu nama-nama di sana. Beberapa temannya sedang online. Tapi lebih banyak tidak. Sudah sore, pikirnya, teman-teman yang biasa mengaktifkan YM di kantor, sudah mulai pulang. Rus ingin menyapa beberapa teman yang tinggalnya terpisah-pisah di berbagai kota dan luar negeri.

Tak hanya nama-nama, ia juga memperhatikan kata-kata yang diletakkan di depan nama-nama itu, yang seringkali menjadi cermin apa yang sedang dirasakan atau dilakukan teman-temannya. “Sedang keluar”, “Bos yang manis”, “Menunggu musim duren”, “Bete deh…”, “Kamu ketahuan….” dan sebagainya. Ia memperhatikan satu persatu, sambil senyum-senyum melihat “catatan status online” itu.

Agonia Senja

KAMI melanggar peraturan. Seharusnya batas waktu penggunaan kolam renang apartemen adalah pukul delapan, namun lewat dari dua jam yang ditentukan kami justru baru menceburkan diri ke dalam kolam. Saya katakan padanya bahwa saya tidak bisa berenang, saya takut air dan takut tenggelam. Karena itu ia menuntun saya dari sisi depan. Gerakannya sangat tenang, terlihat jelas ia sedang berusaha menciptakan keberanian pada diri saya untuk melenyapkan segala macam ketakutan yang ada.
Namun di pertengahan kolam, saya menghilang. Menyelam dengan bebas pada kedalaman dua koma lima meter hingga membuatnya kesal bukan kepalang. Sudah capek-capek menuntun sampai tiga puluh meter jauhnya, ternyata yang dituntun mahir berenang, bahkan menyelam hingga nyaris menyentuh dasar kolam. Maka ia menantang saya menyelam dalam kolam renang berukuran olimpiade ini bolak-balik tanpa jeda, dan menerima tantangannya tanpa berpikir dua kali.
***
 
Copyright 2011 Kota Tercinta Q. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates WP by Wpthemescreator